Niciren Syosyu

Dalam agama Buddha dikenal adanya beberapa aliran atau mazhab ajaran, yakni Hinayana (Theravada) dan Mahayana. Dalam bahasa Sansekerta, Mahayana secara harfiah berarti "kendaraan besar (menuju penerangan)", yang berarti kendaraan yang dapat menyelamatkan lebih banyak mahluk.

Niciren Syosyu merupakan aliran agama Buddha Mahayana yang lahir di Jepang dengan beracu pada Saddharma Pundarika Sutra. "Syosyu" berarti ortodoks atau ketat menjaga kemurnian. Jadi Niciren Syosyu berarti sekte Niciren yang ortodoks, yang selalu dengan ketat menjaga dan mempertahankan kemurnian ajaran.


TRI RATNA

Setiap sekte agama Buddha mengagungkan Triratna, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Bagi agama Buddha Niciren Syosyu keberadaan Triratna juga merupakan hal yang hakiki.

Buddha
Buddha pokok dalam Triratna sekte Niciren Syosyu adalah Buddha Niciren Daisyonin (1222-1282). Niciren dilahirkan di pantai sebelah Tenggara Jepang pada tanggal 16 Februari 1222, dengan nama Zennichimaro.

Pada tahun 1233, ketika Beliau berusia 11 tahun, orang tua Zennichimaro mengirim-Nya ke Kuil Seicho dekat rumah-Nya di Bukit Kiyozumi. Beliau ditahbiskan menjadi bhikhu ketika berusia 15 tahun, dan nama kebhikhuan yang diberikan gurunya adalah Renco, atau "Teratai Abadi". Masa belajar Renco dibarengi dengan timbulnya keraguan, karena adanya begitu banyak ajaran dan pelaksanaan agama Buddha pada zamannya yang berbeda-beda dan saling bertentangan. Beliau tidak puas dengan keadaan demikian. Hal ini terjadi ketika Renco berusia 17 tahun, dan Beliau meninggalkan guru-Nya yang bernama Dozenbo dan pergi ke Kamakura untuk melanjutkan penelitianNya atas Sutra-sutra Hukum Agama Buddha. Akan tetapi Kamakura yang merupakan ibukota para Shogun masih merupakan kota baru dengan suatu tradisi dangkal Agama Buddha. Rencho pun kembali ke Kuil Seicho dalam 4 tahun. Setelah melapor kembali ke Kuil Seicho, Beliau dalam tahun yang sama pergi ke Hiei, pusat belajar dan latihan agama Buddha sekte Tien Tai, dimana Beliau berdiam dari tahun 1243 hingga tahun 1253, menempuh berbagai latihan pertapaan.

Perjuangan batin yang dashyat, penyelidikan yang luas, serta renungan yang lama membawa pencari kebenaran yang tulus ini pada keyakinan akhir bahwa Saddharma Pundarika Sutra merupakan satu-satunya gudang kebenaran yang khas, yang di dalamnya Sang Buddha telah mengungkapkan hakekat sejati diri-Nya. Nama Renco kini diubah menjadi Niciren, Nichi berarti matahari, yaitu sumber kehidupan dan penerangan alam semesta, dan Ren berarti teratai/ padma, yaitu lambang kesucian dan kesempurnaan. Keyakinan teguh Buddha Niciren Daisyonin adalah bahwa Saddharma Pundarika Sutra bukan hanya merupakan puncak sempurna kebenaran agama Buddha, tetapi juga satu-satunya kunci bagi keselamatan semua mahluk pada masa akhir dharma (saat ini) untuk melawan kesesatan jiwa dan menanggapi respon lingkungan secara positif dan bahagia.

Selama menetap di Hiei, Buddha Niciren menemukan bahwa rencana Dengyo untuk menyatukan agama Buddha bangsa Jepang dalam lembaganya di Gunung Hiei telah diselewengkan dan dirusak secara total oleh orang-orang Hiei itu sendiri, yang memasukkan unsur-unsur dari sistem-sistem lain. Pemikiran ini mendorong Buddha Niciren untuk melakukan usaha gigih demi memulihkan ajaran Buddha yang murni.

Hal ini hanya dapat dilakukan dengan memusatkan pikiran dan keyakinan pada satu-satunya kunci kebenaran agama Buddha, sebagaimana yang telah dibabarkan oleh dua orang mahaguru, yaitu Mahaguru Tien Tai dan Mahaguru Dengyo, mengenai Saddharma Pundarika Sutra, khususnya dalam versi Kumarajiva (Kumarajiva adalah seorang India yang menerjemahkan Saddharmapundarika Sutra ke dalam bahasa Mandarin).

Pada tahun 1253, Buddha Niciren keluar dari Gunung Hiei, dan kembali ke Kuil Seicho di Kiyozumi, yang ditinggalkan 15 tahun sebelumnya. Di kuil ini Buddha Niciren melakukan meditasi selama 7 hari di Gubuk Shobutsubo di hutan dekat vihara. Beliau berdoa, sebagai persiapan untuk mengajukan pembaharuan dan mempermaklumkan ajaran-Nya. Pada tanggal 28 April 1253 ketika matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, Buddha Niciren berdiri dan menatap ke arah Timur, dan sewaktu bulatan matahari keemasan mulai meretas kekaburan di atas air yang maha luas, keluarlah suara keras, menggema dari bibirnya, "Nammyohorengekyo".

Sejak mengumumkan ajaran-Nya kepada guru dan teman-teman-Nya di Kuil Seicho, Buddha Niciren selalu mendapatkan berbagai tekanan dan penganiayaan dari pemerintah setempat dan sekte-sekte agama Buddha yang lain di Jepang saat itu. Berbagai penganiayaan dan tekanan yang diterima oleh Buddha Niciren, mulai dari "hukuman" pembuangan, "hukuman" pemenggalan kepala, semakin mengukuhkan keyakinan Beliau bahwa apa yang diramalkan di dalam Bab XIII Penegakan Saddharma Pundarika Sutra tentang penganiayaan yang akan menimpa pelaksana Saddharma Pundarika Sutra adalah benar.

Pada tanggal 12 Oktober 1279, Mantra Agung Nammyohorengekyo (Sadharma Pundarika Sutra) diwujudnyatakan oleh Buddha Niciren sebagai Mandala Pusaka yang disebut sebagai Gohonzon (Bab XI, Bab Menara Pusaka, Sadharma Pundarika Sutra). Gohonzon inilah yang diserahterimakan kepada seluruh umat Buddha Niciren Syosyu sebagai jodoh terbaik untuk memunculkan kesadaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam mazhab Mahayana, dikenal adanya Buddha untuk satu masa penyebaran tertentu. Namun pengakuan sebagai seorang Buddha tidak dapat dilakukan tanpa adanya dasar yang jelas. Pengakuan diri sebagai seorang Buddha haruslah sesuai dengan ramalan yang telah dikemukakan oleh Buddha Sakyamuni sendiri. Untuk mengerti hal ini, perlu dijelaskan perihal pembagian tiga masa penyiaran Dharma dari Sang Buddha Sakyamuni. Hal ini dijelaskan oleh Buddha Sakyamuni dalam Sutra Mahasanghata Bab ke-55, bahwa :
"Dalam 500 tahun setelah kemoksyaan-Ku, para Bhikhu dan lain-lain masih berada dalam hukum-Ku, kesadaran sangat kuat dan berpengaruh, 500 tahun kemudian, hukum sakti-Ku menetap pada sikap meditasi dan samadi. 500 tahun kemudian menetap pada sikap membaca, menghafal, dan banyak mendengar menjadi sangat kuat dan berpengaruh. 500 tahun lagi, dalam hukum-Ku sendiri, membangun banyak stupa dan kuil, dan hal ini menjadi kuat dan berpengaruh. 500 tahun sesudah itu, dalam hukum-Ku terjadi banyak perselisihan, perkelahian, hasutan, sehingga akhirnya hukum putih musnah dan tenggelam".

Sutra Mahasanghata Bab ke-55

Masa 1000 tahun (2 kali 500 tahun) pertama setelah kemoksyaan Buddha Sakyamuni disebut sebagai masa Saddharma (Syoho). Masa 1000 tahun kedua disebut sebagai masa Pratirupadharma (Zoho). Masa 500 tahun terakhir dan seterusnya disebut sebagai masa Pascimadharma (masa Akhir Dharma atau Mappo).

Seiring semakin majunya perkembangan zaman, jiwa manusia semakin tercemar dengan sifat keserakahan (loba), kemarahan (dosa), dan kebodohan (moha). Wajah dunia juga turut berubah. Perubahan ini dapat terjadi dalam waktu yang relatif cepat, apalagi dalam waktu 20 abad (2000 tahun) setelah kemoksyaan Sang Buddha. Berbagai perubahan yang terjadi di dunia membuat segala pertapaan hukum Buddha yang dimungkinkan untuk dilaksanakan pada waktu itu, menjadi tidak mungkin lagi.

Hal ini diramalkan sendiri oleh Buddha Sakyamuni dalam Sutra Mahasanghata. Ajaran murni dari Buddha Sakyamuni, setelah 500 tahun berganti menjadi sikap bermeditasi. Setelah itu, 500 tahun kemudian berganti menjadi sikap membaca, menghafal, dan mendengar sutra. 500 tahun kemudian, sikap pertapaan hukum Buddha lebih dominan pada usaha untuk membangun stupa dan kuil. Setelah berlalu 2000 tahun, dalam masa teknologi yang maju dan mutakhir ini, hukum Buddha semakin sulit untuk dilaksanakan.

Oleh karena Buddha Niciren sebagai satu-satunya orang yang dapat memenuhi seluruh ramalan Buddha Sakyamuni di dalam Saddharma Pundarika Sutra, maka Beliau merupakan pelaksana Saddharma Pundarika Sutra pada masa Akhir Dharma yang telah diramalkan Buddha Sakyamuni di dalam sutra tersebut.

Sampai masa kehidupan Buddha Niciren di Jepang maupun hingga saat sekarang ini, Buddha Niciren merupakan satu-satunya orang yang membuktikan keseluruhan ramalan Buddha Sakyamuni di dalam Saddharma Pundarika Sutra. Tanpa kehadiran Niciren Daisyonin, ramalan Buddha Sakyamuni tentang penganiayaan terhadap pelaksana Saddharma Pundarika Sutra hanya akan menjadi sebuah untaian kata yang tidak terbukti. Karena Saddharma Pundarika Sutra adalah sutra yang berisi kebenaran Buddha Sakyamuni yang terunggul, dan Buddha Niciren membuktikan dengan badan-Nya sendiri kebenaran sutra tersebut, maka diri Buddha Niciren merupakan perwujudan utuh dari kesadaran Buddha yang dijelaskan dalam Saddharma Pundarika Sutra. Dengan demikian jelas bahwa Niciren Daisyonin adalah Buddha.
Dharma

Dharma dalam ajaran Buddha Niciren Syosyu adalah Nammyohorengekyo, yang berarti Namu (manunggal atau percaya sepenuh jiwa raga) kepada Saddharma Pundarika Sutra. Nammyohorengekyo bukanlah sebutan atau salam biasa, namun merupakan mantra gaib yang sakral.

Buddha Niciren, sebagai Buddha masa Akhir Dharma menyatakan bahwa sikap percaya sepenuh jiwa raga dan manunggal kepada Saddharma Pundarika Sutra merupakan satu-satunya sikap kepercayaan yang dapat membawa manusia menuju kesadaran Buddha. Oleh karena itu, Beliau menyatakan bahwa Hukum Buddha yang harus dilaksanakan oleh manusia di Masa Akhir Dharma adalah Hukum Nammyohorengekyo, yang berarti Namu kepada Myohorengekyo.

Namu berasal dari bahasa Sansekerta "Namas" yang berarti manunggal atau percaya sepenuh jiwa raga. Myohorengekyo adalah terjemahan dari Saddharma Pundarika Sutra; Myoho berarti Saddharma, Renge berarti Pundarika, dan Kyo berarti sutra.

Bagaimanapun, dengan menyebut judul dari Myohorengekyo (Saddharma Pundarika Sutra) berarti telah tercakup di dalamnya keseluruhan isi dari Saddharma Pundarika Sutra, satu-satunya sutra yang memungkinkan pencapaian kesadaran bagi seluruh Buddha dan seluruh umat manusia. Di dalam Mantra Nammyohorengekyo sendiri telah tercakup aspek keyakinan terhadap keseluruhan isi dari Saddharma Pundarika Sutra. Dengan penyebutan Mantra Nammyohorengekyo, berarti Saddharma Pundarika Sutra bukan lagi suatu ajaran yang berada di luar diri sendiri. Dengan penyebutan Mantra tersebut, keseluruhan keunggulan dari Saddharma Pundarika Sutra yang banyak dijelaskan oleh Buddha Sakyamuni, bukan lagi sesuatu yang bersifat teoritis dan berada jauh di awang-awang.

Penyebutan Mantra yang berarti manunggal (Namu) kepada Myohorengekyo (Saddharma Pundarika Sutra) mengandung makna keimanan dari seluruh murid Niciren Daisyonin untuk bertekad melaksanakan pertapaan Saddharma Pundarika Sutra secara jiwa dan raga. Penyebutan Mantra Nammyohorengekyo ini disebut sebagai Daimoku dari Saddharma Pundarika Sutra, salah satu dari Sandaihiho sekte Niciren Syosyu.

Para Buddha ketiga masa dan sepuluh penjuru mencapai kesadaran Buddha melalui penyadaran terhadap hukum Saddharma Pundarika Sutra. Karena itu, Buddha tidaklah dapat terlepas dari hukum yang disadari-Nya. Bagaimanapun, setelah menyadarinya, maka Hukum itu pada hakekatnya telah ada dalam diri para Buddha tersebut.

Hukum Saddharma Pundarika Sutra telah diwujudkan oleh Buddha Niciren sebagai Nammyohorengekyo. Karena itu antara Buddha Niciren dan Nammyohorengekyo adalah merupakan kemanunggalan antara Manusia dan Hukum yang tidak dapat terpisahkan (Ninpo Ikka).

Sangha
Sangha bagi umat Buddha Niciren Syosyu adalah Nikko Syonin. Para Bhikhu tertinggi dan para Bhikhu lainnya dapat dianggap sebagai unsur Sangha.

Setelah Buddha Niciren meninggal dunia, tugas penyebarluasan dan mempertahankan kemurnian ajaran diserahkan kepada murid utama-Nya : Nikko Syonin. Pewarisan tugas penyebarluasan, pelestarian kemurnian ajaran Sang Buddha Niciren dari Nikko Syonin secara terus-menerus diturunkan kepada Bhikhu-bhikhu tertinggi tanpa terputus-putus. Pewarisan tersebut merupakan usaha menjaga kelestarian/ ortodoksi ajaran Buddha Niciren demi ryobo kuju (mempertahankan Hukum selama-lamanya) dan kosenrufu (tersebarluasnya Hukum demi kebahagiaan seluruh umat manusia).

SANDAIHIHO

Sandaihiho adalah inti ajaran agama Buddha Niciren Syosyu. Inti ajaran inilah yang membedakan sekte Buddha Niciren Syosyu dari sekte-sekte agama Buddha lainnya. Istilah Sandaihiho tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena makna yang terkandung dalam istilah tersebut tidak terwakili dalam penerjemahan tersebut.

Sandaihiho ini diambil dari makna tersirat Bab XXI Kekuatan Gaib Sang Tathagata, yakni :
"Pada hakekatnya, segala Hukum yang dimiliki Sang Tathagata (Sandaihiho), segala kekuatan gaib yang sempurna dan agung dari Sang Tathagata (Altar Sila Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra), segala harta kekayaan yang azasi serta pelik dari sang Tathagata (Mandala Pusaka Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra - Gohonzon), dan keadaan yang begitu dalam dari Sang Tathagata (Mantra Agung Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra - Nammyohorengekyo). Semuanya dinyatakan, dipertunjukkan, diungkapkan, serta dijelaskan di dalam sutra ini."

Sutra Mahasanghata, Halaman 320
Sandaihiho terdiri dari :
Honmon no Honzon

Honmon no Honzon (Mandala Pusaka pemujaan Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra), yakni Gohonzon.

Tujuan kehadiran Buddha Niciren ke dunia ini adalah untuk mewujudkan Dai Gohonzon yang diberikan kepada seluruh umat manusia Masa Akhir Dharma agar mereka semua dapat mencapai kesadaran Buddha. Gohonzon merupakan perwujudan dari Dharma agung yang terpendam pada kalimat tersirat Saddharma Pundarika Sutra, yaitu Nammyohorengekyo. Pada wajah Gohonzon tertera tulisan Nammyohorengekyo - Niciren di tengah-tengah dan di kanan kirinya tergambar perasaan-perasaan jiwa yang ada dalam diri manusia, dari yang paling rendah (Dunia Neraka) hingga yang paling tinggi (Dunia Buddha). Namun pada hakekatnya semua itu adalah Nammyohorengekyo. Gohonzon merupakan suatu mandala yang diwujudkan oleh Sang Buddha pokok Niciren Daisyonin demi kebahagiaan umat manusia.

Gambaran jiwa manusia seutuhnya tergambar dalam wajah Mandala Pusaka Pemujaan (Gohonzon), yaitu :

  • Dunia Buddha diwakili oleh Nammyohorengekyo - Niciren, yang diapit oleh Buddha Sakyamuni dan Tathagata Prabhutaratna.
  • Dunia Kebodhisattvaan diwakili oleh Bodhisattva Visistakaritra, Anantakaritra, Visudhakaritra, dan Supratishtitakaritra.
  • Dunia Pratyekabuddha diwakili oleh Bodhisattva Manjusri, Bodhisattva Baisyajaraja, Bodhisattva Samantabadra, dan Boddhisattva Maitreya.
  • Dunia Sravaka diwakili oleh Sariputra dan Mahakasyapa.
  • Dunia Surga diwakili oleh Dewa Mahabrahma, Sakra Devanam Indra, Dewa Matahari, Dewa Bulan, Dewa Bintang, dan Raja Iblis Surga Keenam.
  • Dunia Kemanusiaan diwakili oleh Raja Cakravarti dan Raja Ajatasatru.
  • Dunia Asura (Kemurkaan) diwakili oleh Raja Asura.
  • Dunia Kebinatangan diwakili oleh Raja Naga dan Putri Naga.
  • Dunia Kelaparan diwakili oleh Hariti dan Dasaraksasi.
  • Dunia Neraka diwakili oleh Devadatta.
Honmon no Daimoku

Honmon No Daimoku (Mantra Agung Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra), yakni Nammyohorengekyo.

Daimoku secara sederhana berarti menyebut mantra Nammyohorengekyo di hadapan Gohonzon. Pada saat menyebut Nammyohorengekyo di hadapan Gohonzon harus didasari dengan tekad untuk membangkitkan potensi membangun yang ada dalam diri manusia. Myohorengekyo secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu hukum tetap yang tidak berubah-ubah dan mencakup seluruh kejadian-kejadian yang berlangsung di alam ini. Nammyohorengekyo adalah intisari seluruh keberadaan alam semesta. Myohorengekyo adalah potensi seluruh mahluk termasuk di dalamnya manusia.

Apabila manusia biasa dengan sungguh hati menyebut Nammyohorengekyo di hadapan Gohonzon maka jiwanya akan terkena pancaran jiwa Buddha pokok atau Nammyohorengekyo - Niciren. Pancaran jiwa Buddha Pokok ini akan membangkitkan sifat empat pemimpin Bodhisattva dalam diri manusia yang dikatakan sebagai berani (kuat), bebas, suci, dan tenang. Manusia yang berhasil memunculkan empat sifat inilah yang mampu mewujudkan secara nyata potensi membangun yang ada dalam dirinya.

Honmon no Kaidan

Honmon No Kaidan (Altar Sila Ajaran Pokok Saddharma Pundarika Sutra), yakni tempat disemayamkannya Dai Gohonzon.

Dalam pengertian umum, tempat Gohonzon yang disemayamkan di rumah masing-masing penganut sekte Niciren Syosyu juga altar sila bagi keluarga tersebut.

Altar tempat disemayamkan Joju Gohonzon
Altar tempat disemayamkan Joju Gohonzon di Vihara Sadharma (Myoho - Ji), Ciapus, Bogor
Vihara Sadharma (Myoho - Ji), Ciapus, Bogor

ICINEN SANZEN

Icinen Sanzen dapat diartikan sebagai tiga ribu gejolak jiwa (sanzen) dalam jiwa sekejap (icinen). Istilah Icinen Sanzen ini pertama kali dikemukakan oleh Mahaguru Tien-tai. Beliau merumuskan teori ini berdasarkan Saddharma Pundarika Sutra. Teori ini sesuai dengan inti dari Saddharma Pundarika Sutra, merupakan hukum pertapaan untuk setiap manusia mencapai kesadaran Buddha. Buddha Niciren Daisyonin mewujudkan Teori Icinen Sanzen secara nyata menjadi Gohonzon. Dengan percaya kepada Gohonzon dan dapat melaksanakan ajaran Niciren Daisyonin setiap manusia dapat mencapai kesadaran Buddha.

Karena Hukum pertapaan Icinen Sanzen ini merupakan intisari dari Saddharma Pundarika Sutra, Hukum ini mencakup hukum-hukum pertapaan lainnya, seperti pertapaan Kebodhisattvaan untuk mencapai Kebuddhaan, pertapaan Delapan Jalan Utama/Benar, dan lain sebagainya. Satu hal yang istimewa dalam Hukum Icinen Sanzen adalah adanya penjelasan mengenai tempat yang tidak terpisah dengan individu (teori Kokudo Seken). Manusia tidaklah terpisah dengan tanah tempat tinggalnya (Prinsip Esyo Funi). Berdasarkan prinsip ini, yang pelaksanaannya ditegaskan dalam berbagai Surat (Gosyo), agama Buddha Niciren Syosyu mempunyai karakteristik sebagai agama Buddha yang menekankan sikap nasionalisme dan patriotisme.

KONSEP KETUHANAN

Ketuhanan di dalam agama Buddha terwujud dalam konsep tentang adanya suatu hukum yang berlaku secara universal di dalam alam semesta ini dan hukum ini terwujud dalam segala gejala alam semesta dan dalam diri manusia itu sendiri. Hukum tersebut adalah Hukum Sebab-Akibat, yang melandasi segala fenomena yang terjadi pada manusia dan alam semesta ini, segalanya berjalan sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat. Sebab yang baik akan menerima akibat yang baik, demikian juga sebaliknya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Glasenapp bahwa :
All morally positive or negative actions are subject to it, so that each good action reaps its own reward, and each evil meets its punishment.

Glasenapp, Halaman 49
Dan bahwa :
The Cosmic Law in Buddhism is often similar to the personal God of theist religions, for it conditions the origin, existence, and end of the world, rewards good deeds and punishes evil ones.

Glasenapp, Halaman 52
Kehadiran Buddha di dunia ini juga tidak terlepas dari jalinan hukum Sebab-Akibat ini. Sebab kehadiran Buddha di dunia ini dijelaskan di dalam Saddharma Pundarika Sutra Bab II Upaya Kausalya, dimana Buddha Sakyamuni mengatakan :
"Wahai Sariputra, tahukah engkau sebabnya mengapa Aku katakan bahwa para Buddha yang agung itu, hanya muncul di dunia ini hanya karena satu alasan yang penting saja? Hal itu karena para Buddha yang agung ini berkehendak untuk membuat semua mahluk hidup agar membuka matanya terhadap pengetahuan Sang Buddha sehingga mereka dapat mencapai jalan yang suci; oleh karena itulah Mereka muncul di dunia. Karena mereka ingin untuk menunjukkan para mahluk hidup akan pengetahuan Sang Buddha, maka Mereka muncul di dunia; karena mereka ingin membuat para mahluk hidup untuk memasuki jalan kebijaksanaan Sang Buddha, maka mereka muncul di dunia. Wahai Sariputra, inilah sebabnya mengapa para Buddha itu muncul di dunia ini hanya karena sebab-sebab yang sangat besar saja"

Saddharma Pundarika Sutra, Halaman 35
Hukum Sebab-Akibat yang merupakan hukum alam semesta ini harus dilihat dari aspek badan Buddha dan beberapa sifat yang terdapat di dalam ketuhanan agama Buddha, sehingga dapat mengerti posisi sang Buddha dalam ajaran-ajaran-Nya. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha terdiri dari beberapa sifat dan aspek, salah satunya adalah konsep tentang Trikaya yang Ekakaya. Konsep Trikaya merupakan konsep di dalam Buddhisme yang menjelaskan tentang aspek-aspek dari ketuhanan dalam agama Buddha berdasarkan penjelasan mengenai badan Buddha (kaya berarti badan). Badan di sini tidak dapat diartikan sebagai badan personifikasi, namun harus dilihat sebagai suatu sistem atau kesatuan.
logonsi.png

Situs resmi Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia.

A Jl. Minangkabau No. 23A - 25, 12970, Jakarta Selatan, IndonesiaEadmin@nsi.or.id
M +6221 8311 844, +6221 8314 959

Follow Us

Subscribe Us

Daftarkan email anda untuk mendapatkan update seputar gosyo, pemaparan dharma, berita atau kegiatan terkini NSI langsung ke email anda.

Copyright © 2020 Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia.
All Right Reserved.

Search

+6221 8311 844Jl. Minangkabau No. 25, 12970, Jakarta Selatan, Indonesia