Pada Hari Sabtu, 18 November 2017 NSI diundang dalam Pagelaran Peran Perempuan Buddhis Nusantara dan berksempatan mempersembahkan kesenian pada acara tersebut yang diselenggarakan di Emporium Pluit Mall. Dalam kegiatan tersebut NSI diundang untuk menampilkan 2 tarian daerah yaitu Tari Ampun Teuing dan Tarian Lenggang Jakarta yang dibawakan oleh 16 orang dan pertunjukkan musik Angklung yang dibawakan oleh segenap umat NSI dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang berjumlah 55 orang. Grup Angklung Pundarika NSI mengalunkan 5 buah lagu yaitu Indonesia Pusaka, Wanita, Island Capuli, Alusiau, dan Tanah Air.
Kegiatan ini menindaklanjuti pertemuan tentang kegiatan pengembangan seni, budaya dan ekonomi kreatif yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI serta menggali potensi yang ada dan keja sama antara organisasi Wanita Buddhis Indonesia. Grup kesenian NSI tampil dengan penuh semangat bergelora dan wajah penuh antusias mengikuti pagelaran peran perempuan Buddhis Nusantara tersebut. Bagi umat NSI, makna mengikuti kesenian adalah bagian dari iman sebagai pengalaman untuk Buddha Dharma dan hukum Myohorengekyo sebagai Bodhisatva yang muncul dari bumi yang turut serta menjaga warisan dan cinta tanah air agar membawa kemakmuran dan kebahagiaan untuk orang lain maupun diri sendiri sebagai salah satu revolusi mental dan perombakan sifat jiwa untuk hidup mandiri merubah karma berat menjadi ringan. Semangat dan kegembiraan yang dirasakan oleh grup kesenian NSI tidak lain adalah untuk memajukan bangsa dan menyebarluaskan Dharma. Semangat ini yang harus senantiasa dijaga sehingga melalui kesenian ini timbul getaran-getaran dalam menyebarluaskan Dharma seperti tugas Bodhisatva Gadgaswara.
Kegiatan ini menindaklanjuti pertemuan tentang kegiatan pengembangan seni, budaya dan ekonomi kreatif yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI serta menggali potensi yang ada dan keja sama antara organisasi Wanita Buddhis Indonesia. Grup kesenian NSI tampil dengan penuh semangat bergelora dan wajah penuh antusias mengikuti pagelaran peran perempuan Buddhis Nusantara tersebut. Bagi umat NSI, makna mengikuti kesenian adalah bagian dari iman sebagai pengalaman untuk Buddha Dharma dan hukum Myohorengekyo sebagai Bodhisatva yang muncul dari bumi yang turut serta menjaga warisan dan cinta tanah air agar membawa kemakmuran dan kebahagiaan untuk orang lain maupun diri sendiri sebagai salah satu revolusi mental dan perombakan sifat jiwa untuk hidup mandiri merubah karma berat menjadi ringan. Semangat dan kegembiraan yang dirasakan oleh grup kesenian NSI tidak lain adalah untuk memajukan bangsa dan menyebarluaskan Dharma. Semangat ini yang harus senantiasa dijaga sehingga melalui kesenian ini timbul getaran-getaran dalam menyebarluaskan Dharma seperti tugas Bodhisatva Gadgaswara.





