
Panelis diskusi "Merawat Toleransi, Melintas Sekat Religi" yang mengahdirkan tokoh-tokoh lintas agama dalam acara Diversity Dinner Sabang Merauke di Jakarta pada 24 November 2017.
Ketua umum NSI, MPU Suhadi Sendjaja, diundang dalam acara Diversity Dinner SabangMerauke: 5 Tahun Merawat Toleransi, dan diberi kepercayaan/kesempatan dalam berbagi pesan damai yang di gelar di Upperrroom Jakarta-Annex Building Lt. 12, Jakarta pada Jumat, 24 November 2017. Kegiatan ini merupakan program SabangMerauke atau Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali (SabangMerauke) yakni program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan yang diikuti oleh adik-adik SabangMerauke (ASM) dengan beragam latar belakang agama dan budaya mengikuti kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan serta membuka cakrawala anak-anak Indonesia sebagai sebuah momen untuk merayakan keberagaman dan bangga menjadi bagian dari Indonesia dalam memahami pentingnya toleransi antar suku ataupun antar agama bagi masa depan bangsa.
Acara Diskusi panel yang dipandu oleh Kak Ayu kartikadewi ini menghadirkan 6 narasumber yg merupakan pemuka agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Acara yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama ini penting sebagai pengingat bahwa tidak ada sekat-sekat sesama umat beragama di Tanah Air. Bertemakan “Merawat Toleransi, Melintas Sekat Religi”, acara ini menghadirkan: I Wayan Kantun Mandara (Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Jakarta Pusat), Pdt. Jose Carol (Penasihat Sinode Jemaat Kristen Indonesia), Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja (Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia), Muchlis M. Hanafi (Wakil Direktur Pusat Studi Al-Qur’an), Peter Lesmana (Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Romo Antonius Benny Susetyo (Rohaniawan, Penasihat Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila). Acara ini juga dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin. Beliau mengutarakan bahwa “siapa hidup berdampingan secara damai, mereka adalah pemenang”. “Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan ini adalah kekuatan. Kita harus siap hidup berdampingan secara damai dengan inklusif. Orang lain ada untuk kita. Kita ada bukan untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain dan hal ini relevan dengan situasi Indonesia saat ini di mana isu intoleransi terlebih yang dipolitisasi merebak di berbagai daerah,” lanjutnya.
Acara Diskusi panel yang dipandu oleh Kak Ayu kartikadewi ini menghadirkan 6 narasumber yg merupakan pemuka agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Acara yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama ini penting sebagai pengingat bahwa tidak ada sekat-sekat sesama umat beragama di Tanah Air. Bertemakan “Merawat Toleransi, Melintas Sekat Religi”, acara ini menghadirkan: I Wayan Kantun Mandara (Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Jakarta Pusat), Pdt. Jose Carol (Penasihat Sinode Jemaat Kristen Indonesia), Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja (Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia), Muchlis M. Hanafi (Wakil Direktur Pusat Studi Al-Qur’an), Peter Lesmana (Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Romo Antonius Benny Susetyo (Rohaniawan, Penasihat Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila). Acara ini juga dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Din Syamsuddin. Beliau mengutarakan bahwa “siapa hidup berdampingan secara damai, mereka adalah pemenang”. “Bagi bangsa Indonesia, kemajemukan ini adalah kekuatan. Kita harus siap hidup berdampingan secara damai dengan inklusif. Orang lain ada untuk kita. Kita ada bukan untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain dan hal ini relevan dengan situasi Indonesia saat ini di mana isu intoleransi terlebih yang dipolitisasi merebak di berbagai daerah,” lanjutnya.
Sebelum acara Diversity Dinner ini ditutup, para tokoh 6 agama di Indonesia, para donor, dan para co-founder SabangMerauke bersama-sama menyiram pohon kopi yg nantinya pohon ini akan ditanam di istana negara.
Tokoh-tokoh lintas agama dalam diskusi tersebut, berbagi pandangan mengenai menjaga toleransi di Indonesia. Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja memberikan perspektif dari sudut pandang Buddha, bahwa agama bukanlah tujuan akhir, kesempurnaan menjadi manusia yakni kebahagiaan adalah tujuan, dan kebahagiaan hanya akan tercipta dalam suasana damai. Beliau mengungkapkan “Sejak kecil anak-anak harus tahu pemahaman agamanya, tujuan akhir bukan agama, adalah pencapaian kesempurnaan diri sendiri. Kalau dirinya sempurna, dia bisa menghormati yang lain,”. Beliau juga menyampaikan bahwa “Agama hadir untuk membela umat manusia, bukan sebaliknya",pungkasnya.


