Ketua umum NSI, MPU Suhadi Sendjaja, diundang ikut serta dalam Dialog Lintas Agama Mengenai Krisis Kemanusiaan Rohingya. Kegiatan yang di gelar di Puri Denpasar Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/11/2017) ini diselenggarakan oleh Amnesty International Indonesia. Amnesty International (AI) adalah sebuah organisasi non pemerintah yang mengkoordinasikan berbagai aktivitas atas nama hak asasi manusia di seluruh dunia.
Foto Bersama Peserta Dialog Lintas Agama mengenai Krisis Kemanusiaan Rohingya (dari kiri) yang mewakili dari agama Islam, Kristen, Katholik, Konghucu, Elise (Tim Investigasi AI), Buddha, Hindu, dan Direktur AI Indonesia,
AI merilis hasil penelitian yang mengungkap kejahatan tersistematis rezim Myanmar terhadap Muslim Rohingya. AI setelah melakukan investigasi selama dua tahun terakhir di Rakhine State, Myanmar, telah telah mengumpulkan bukti-bukti telah terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan secara masif dan sistematis terhadap etnis Rohingya. Laporan yang berisi penelitian langsung selama dua tahun ke sejumlah wilayah Rakhine dan lokasi pengungsian itu berisi mengenai berbagai perlakuan dan kebijakan diskriminatif pemerintah Myanmar yang nampak jelas telah mencabut hak-hak dasar dan kehidupan warga Rohingya. Elise Tillet,
seorang anggota tim investigasi AI, menyebut situasi di Rakhine State tidak bisa didiamkan.
Al menemukan fakta bahwa telah terjadi pembersihan etnis Rohingya di Myanmar. Tidak hanya itu, akses etnis Rohingya terhadap pendidikan dan kesehatan juga dihilangkan. Mereka juga dilarang keluar dari desanya masing-masing sejak tahun 2012 lalu. AI menyatakan telah sampai pada kesimpulan bahwa pemerintah Myanmar secara sadar telah mempraktikkan politik Apartheid serta pembersihan etnis untuk menyingkirkan etnis minoritas Rohingya dari tempat tinggal yang telah mereka huni selama ratusan tahun di negara bagian Rakhine. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan dan mendiskriminasi mereka yang dianggap ras tertentu. Temuan AI ini sudah dipresentasikan ke tokoh-tokoh dari sejumlah agama di Indonesia. Dalam dialog tersebut hadir pula tokoh dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Konghucu yang menyampaikan pandangannya mengenai topik Krisis Kemanusiaan Rohingya dari perspektif agama masing-masing.
seorang anggota tim investigasi AI, menyebut situasi di Rakhine State tidak bisa didiamkan.
Al menemukan fakta bahwa telah terjadi pembersihan etnis Rohingya di Myanmar. Tidak hanya itu, akses etnis Rohingya terhadap pendidikan dan kesehatan juga dihilangkan. Mereka juga dilarang keluar dari desanya masing-masing sejak tahun 2012 lalu. AI menyatakan telah sampai pada kesimpulan bahwa pemerintah Myanmar secara sadar telah mempraktikkan politik Apartheid serta pembersihan etnis untuk menyingkirkan etnis minoritas Rohingya dari tempat tinggal yang telah mereka huni selama ratusan tahun di negara bagian Rakhine. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan dan mendiskriminasi mereka yang dianggap ras tertentu. Temuan AI ini sudah dipresentasikan ke tokoh-tokoh dari sejumlah agama di Indonesia. Dalam dialog tersebut hadir pula tokoh dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Konghucu yang menyampaikan pandangannya mengenai topik Krisis Kemanusiaan Rohingya dari perspektif agama masing-masing.
Suasana diskusi Ketua Umum-Mpu Suhadi Sendjaja dengan para peserta Dialog Lintas Agama mengenai Krisis Kemanusiaan Rohingya
Ketua Umum NSI, Mpu Suhadi Sendjaja yang mewakili Agama Buddha menjelaskan bahwa sebetulnya permasalahan yang terjadi di Rohingya tersebut bukanlah permasalahan agama, melainkan permasalahan sosial, ekonomi, dan juga kewarganegaraan. Agama Buddha melihat bahwa segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan, pasti ada sebabnya yang mengakihatkan warga Rohingya diungsikan dari Myanmar menggunakan perahu ke tengah taut. Untuk mengatasi permasalahan ini harus ada perubahan sebab yang dilakukan oleh kedua belah pihak, balk dari warga etnis Rohingya maupun dari pemerintahan Myanmar. Perubahan sebab yang harus dilakukan oleh warga etnis Rohingya adalah, mereka harus mulai lebih mencintai tanah air mereka, mencintai budaya Myanmar, serta bahasanya, dan menjadi orang-orang yang lebih produktif agar bisa memberikan manfaat serta kontribusi terhadap negara, sehingga akibatnya negara pun akan menerima mereka dengan baik. Selain itu dari sisi pemerintah harus membuat sebab agar mereka menjadi cinta terhadap tanah air Myanmar, dan menjadi orang-orang yang lebih produktif, dengan memberikan perhatian dan juga pelatihan terhadap mereka.
Permasalahan ini mirip dengan diskriminasi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia beberapa dekade lalu. Warga negara Indonesia keturunan Tionghoa tidak diakui status kewarganegaraannya dan menjadi orang-orang yang dimarjinalkan oleh pemerintah. Dalam kondisi seperti itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang ada di masyarakat pada umumnya dan yang menjadi umat Buddha yang terhimpun di dalam wadah Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) khususnya terus melakukan usaha untuk mencintai tanah air Indonesia dengan belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar, melestarikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia, selalu berusaha menjadi manusia-manusia yang produktif dan kompeten sehingga mampu memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia di berbagai bidang (sosial, ekonomi, pendidikan, maupun olahraga). Sampai akhirnya warga negara keturunan Tionghoa bisa diakui secara resmi menjadi warga negara Indonesia bukanlah suatu kebetulan, namun merupakan tumpukan sebab yang sudah dilakukan oleh warga Indonesia keturunan Tionghoa yang akhirnya menarik jodoh, dan menjadi akibat, serta imbalan nyata di dalam kehidupan saat ini.
Sangat banyak sumber berita yang tidak dapat dipercaya menebarkan isu-isu kebencian, sehingga membentuk opini publik yang keliru. Sangat perlu diingat bahwa tidak ada agama yang dapat dikaitkan dengan aksi terorisme maupun aksi keji lainnya yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku umat beragama. Pada hakekatnya agama itu sendiri adalah kemanusiaan sehingga krisis kemanusiaan Rohingya sudah jelas bukan merupakan kejadian yang bersumber dari konflik antar umat beragama. Agama itu suci dan tidak boleh dimasuki oleh konflik. Karena agama sudah pasti tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk berkonflik. Kejadian ini harus dapat menjadi pendorong bagi bersatunya umat beragama di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Beliau mengimbau seluruh umat beragama, khususnya umat Buddha untuk tidak terprovokasi. Sebagai umat beragama sudah selayaknya kita bersama-sama berdoa untuk kedamaian di Rohingya dan seluruh dunia.
Permasalahan ini mirip dengan diskriminasi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia beberapa dekade lalu. Warga negara Indonesia keturunan Tionghoa tidak diakui status kewarganegaraannya dan menjadi orang-orang yang dimarjinalkan oleh pemerintah. Dalam kondisi seperti itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang ada di masyarakat pada umumnya dan yang menjadi umat Buddha yang terhimpun di dalam wadah Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) khususnya terus melakukan usaha untuk mencintai tanah air Indonesia dengan belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar, melestarikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia, selalu berusaha menjadi manusia-manusia yang produktif dan kompeten sehingga mampu memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia di berbagai bidang (sosial, ekonomi, pendidikan, maupun olahraga). Sampai akhirnya warga negara keturunan Tionghoa bisa diakui secara resmi menjadi warga negara Indonesia bukanlah suatu kebetulan, namun merupakan tumpukan sebab yang sudah dilakukan oleh warga Indonesia keturunan Tionghoa yang akhirnya menarik jodoh, dan menjadi akibat, serta imbalan nyata di dalam kehidupan saat ini.
Sangat banyak sumber berita yang tidak dapat dipercaya menebarkan isu-isu kebencian, sehingga membentuk opini publik yang keliru. Sangat perlu diingat bahwa tidak ada agama yang dapat dikaitkan dengan aksi terorisme maupun aksi keji lainnya yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku umat beragama. Pada hakekatnya agama itu sendiri adalah kemanusiaan sehingga krisis kemanusiaan Rohingya sudah jelas bukan merupakan kejadian yang bersumber dari konflik antar umat beragama. Agama itu suci dan tidak boleh dimasuki oleh konflik. Karena agama sudah pasti tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk berkonflik. Kejadian ini harus dapat menjadi pendorong bagi bersatunya umat beragama di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Beliau mengimbau seluruh umat beragama, khususnya umat Buddha untuk tidak terprovokasi. Sebagai umat beragama sudah selayaknya kita bersama-sama berdoa untuk kedamaian di Rohingya dan seluruh dunia.



